Jumat, 12 Maret 2010

RI Mampu Swasembada PISTOL


12 Maret 2010, Jakarta -- Anggota Komisi I DPRdari Fraksi Partai Golkar, Fayakhun Andriadi, menyatakan RI melalui PT Pindad di Bandung sudah mampu swasembada peluru amunisi, khususnya yang kecil, termasuk pistol, baikuntuk TNI maupun Polri.Ia mengungkapkan itudi Jakarta, Jumat, sehubungan dengan hasil kunjungan kerja (Kunker) Komisi I DPR RI ke sejumlah institusi mitranya di Bandung, Jawa Barat.

"Dari laporan yang kami terima, juga berdasarkan kajian-kajian prospektif, dapat disimpulkan, kita sesungguhnya sudah mampu untuk swasembada peluru amunisi kecil, juga swasembada pistol untuk kebutuhan anggota TNI maupun Polri," ujarnya lagi.

Menurutnya, tidak ada alasan lagi bagi Pemeritah untuk selalu melakukan impor Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) tertentu, karena biaya pengadaannya mahal, dan hanya menguntungkan pihak ketiga selaku pengantara.

Selain amunisi kecil dan pistol, Fayakhun Andriadi dkk dari Komisi I DPR RI juga bekeyakinan, Indonesia sebetulnya juga sudah mampu swasembada senapan SS2.

"Bukan cuma itu, bahkan kita juga sudah mampu memproduksi Panser 4x4 dan 6x6 dengan kualitas baik, tidak kalah dengan produksi negara maju mana pun di bidang peralatan militer," katanya.

"Saya merasakan nyetir Anoa 6x6 pesanan TNI yang bermesin 7000cc, tonasenya 13 ton, `matic` lagi. Rasanya seperti nyetir `Kijang Matic`, karena `power steering`, sehingga mudah dikendarai," ungkapnya.

Fasilitas dalam Panser Anoa 6x6 itu pun terkesan nyaman, karena ada AC yang dingin.

"Tebal bajanya 8mm dengan kemampuan menahan tembakan kaliber 7,62mm dari jarak 25 meter. Ini kan luar biasa. Kami salut dengan para pembuatnya dan PT Pindad tentunya," katanya.

ANTARA News
Selengkapnya...

Kamis, 11 Maret 2010

Anggaran Alutsista TNI 2010-2024 Rp400 Triliun


Anggaran Alutsista TNI 2010-2024 Rp400 Triliun



Panser amphibi 4x4 (photo : Tomoyuki-Kaskus Militer)

Anggaran Alutsista TNI Rp400 Triliun

Direktur Jenderal Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) RI, Laksamana Muda TNI Gunadi mengatakan anggaran yang dibutuhkan untuk pengadaan dan pemeliharaan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsita) hingga 15 tahun mendatang sekitar Rp 400 triliun. Selain itu, ke depan Kemenhan dan TNI akan memprioritaskan penggunaan alutsista produk dalam negeri. Namun, untuk saat ini beberapa alutsista masih yang berasal dari luar negeri."Untuk ke depan Kemenhan akan memaksimalkan penggunaan Alutsista produk dalam negeri," kata Laksamana Muda TNI Gunadi usai Rapat Koordinasi Kemenhan dengan BUMNIS di Kantor Kemenhan, Jakarta, Selasa (9/3).

Menurut Gunadi, rapat koordinasi yang dihadiri seluruh BUMN Industri Pertahanan dan perwakilan dari Kementerian Keuangan, Bappenas, Kementerian Riset dan Teknologi, Kemeneg BUMN, Kementerian Perindustrian, unsur perguruan tinggi dan dan TNI itu dimaksudkan untuk mensinkronkan rencana kegiatan dalam rangka revitalisasi industri pertahanan.

Gunadi menjelaskan Kemenhan menetapkan tahun 2010 sebagai babak baru dari program pembuatan alutsista dari dalam negeri. Untuk saat ini, menurut Gunadi, Alutsista yang bisa diproduksi dari dalam negeri, antara lain, amunisi, payung, helm, senjata perseorangan dan senjata kelompok, kapal cepat, panser.

Dia mengatakan masing-masing Angkatan pada tahun 2010 memiliki program prioritas pengadaan alutsita. Untuk TNI Angkatan Darat, katanya, memprioritaskan pengadaan alutsista seperti helikopter angkut TNI AD, rudal, dan peluri kendali. Sedangkan Angkatan Laut diantaranya membutuhkan Perusak Kawat Rudal (PKR), kapal selam, dan tank marinir. "Untuk kapal selam sedang diproses, dan tank marinir mulai didatangkan dari Rusia," katanya.

Sementara itu, Angkatan Udara akan memprioritaskan pengadaan pesawat latih, pengganti pesawat tempur OV-10, pesawat tempur MK-53, dan hercules. Gunadi menyebutkan alutsista yang masih tergantung dari produk dari luar negeri antara lain, pesawat tempur, helikopter serbu, kapal selam, korvet, senjata berat, kanon, tank, sebagian peluri kendali, dan peluru kaliber besar.

Ketika ditanya negara mana yang menjadi tujuan pengadaan alutsista, menurut dia, di antaranya berasal dari Amerika Serikat, Rusia, Jerman, Belanda, Prancis, Belgia, Polandia, China, dan Korea. Mengenai sumber pembiayaan pengadaan alutsista, menurut Gunadi, berasal dari anggaran rutin masing-masing Angkatan, anggaran pinjaman dalam negeri, dan kredit ekspor. Terkait penggunaan anggaran pengadaan alusista tersebut, Kemenhan tetap memperhatikan aspek pengadaan alutsista secara multiyears.
Selengkapnya...